| Ilustrasi: Sumber. pusatdiklat.com |
Dalam konteks penyusunan program diklat, yang paling penting adalah analisis kebutuhan (need), kemudian penentuan tujuan setelah penyusunan rencana awal diklat, pelaksanaan terakhir evaluasi. Menurut pendapat Burton, Merrill dan Kaufman yang menyatakan kebutuhan adalah ketimpangan atau gap antara “apa yang seharusnya” dengan apa yang “kenyataannya”.
Untuk
mempermudah pemahaman, pengertian kebutuhan sebagaimana dikemukakan di atas,
dapat digambarkan sebagai berikut:
Artinya kebutuhan itu dapat diketahui dari adanya ketimpangan atau belum dicapainya suatu situasi berdasarkan unjuk kerja yang dipersyaratkan dalam sebuah jabatan atau pekerjaan.
Kemudian yang dimaksud dengan analisis kebutuhan diklat adalah
proses untuk menentukan apa yang seharusnya sesuai sasaran dan dilanjutkan dengan
mengukur jumlah ketimpangan antara semestinya dengan kenyataan. Proses ini disebut juga
sebagai need
assessment. Jadi, analisis kebutuhan diklat dapat
dikatakan sebagai
studi analisis
suatu masalah dengan mengumpulkan data sebagai rujukan dalam
mengambil keputusan.
Tahapan
Analisis Kebutuhan Diklat
1.
Penyusunan
rencana
2.
Identifikasi
masalah
3.
Penentuan
lingkup perencanaan
4.
Identifikasi
alat dan prosedur analisis
5.
Penentuan
dan rumuskan kondisi sekarang
6.
Tentukan
kondisi yang diharapkan,
7.
Pertemukan
perbedaan pendapat
8.
Urutkan
kebutuhan dan teruskan
penilaian untuk tetap up
to date
Pada
langkah kedelapan secara tegas dinyatakan untuk melakukan penilaian sehingga
hasil yang diperoleh selalu tetap up
to date. Langkah pelaksanaan yang disebutkan di atas, merupakan
salah satu pilihan yang dapat diterapkan dalam pelaksanaan analisis kebutuhan
diklat.
Hal
lainnya yang terkait dengan pelaksanaan analisis kebutuhan diklat adalah
tingkatan atau level pelaksanaan analisis kebutuhan diklat yang meliputi
level organisasi, pekerjaan dan individu. Pada level
organisasi, analisis ditujukan untuk melihat kelemahan umum yang terdapat pada
organisasi. Misalnya unit atau bidang yang paling membutuhkan pelatihan
berdasarkan kinerja yang dicapai. Analisis kebutuhan diklat pada level
pekerjaan bertujuan untuk mengetahui jenis keterampilan, pengetahuan dan sikap
yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas yang berkaitan dengan pekerjaan
tertentu. Misalnya, pekerjaan arsiparis membutuhkan jenis keterampilan,
pengetahuan atau sikap apa saja sehingga pekerjaan arsiparis menjadi lebih
baik. Selanjutnya, analisis kebutuhan diklat pada level individu bertujuan
untuk mengetahui siapa diantara pegawai yang akan mengikuti diklat tertentu.
Kaufman
dengan memperhatikan kondisi awal atau pertanyaan yang diajukan untuk
melaksanakan analisis kebutuhan membagi jenis analisis ke dalam 6 kategori,
yaitu model Alpha, Beta, Gamma, Delta, Epsilon dan Zeta. Kategori ini
dikembangkan Kaufman untuk menunjukkan adanya urut-urutan langkah kegiatan
dalam analisis kebutuhan.
Model
Alpha dimulai dari seluruh bagian yang terkait dengan analisis kebutuhan (dewan
pendidikan, fasilitator, penyelenggara dan pengguna lulusan) saling menghargai
pendapat yang ada tentang solusi yang diberlakukan saat ini. Selanjutnya
ditentukan kesenjangan antara hasil yang diperoleh dengan hasil dipersyaratkan
dan yang diharapkan. Model Beta dilakukan pada saat semua unsur yang terkait
dengan pelaksanaan diklat telah merasa yakin bahwa tujuan dan kebijakan yang
diterapkan sudah benar, hal ini akan menjadi prasyarat untuk menentukan
kesenjangan dalam kinerja peserta sekarang dengan kinerja yang diharapkan.
Model Gamma dimulai pada saat timbul pertanyaan untuk mengurutkan hasil (goal) dan tujuan (objective) yang telah
ada untuk menghasilkan urutan hasil yang diharapkan berdasarkan prioritas,
alternatif program maupun material yang menunjang pencapaian kinerja
organisasi. Model Delta lebih memfokuskan perhatian pada tugas-tugas manajerial
untuk menunjang pelaksanaan analisis kebutuhan. Selanjutnya model Epsilon dan
Zeta mempunyai peranan untuk melakukan evaluasi sehingga secara konstan dan
berkelanjutan terjadi perubahan.
Pengelompokan
yang lain atas ruang lingkup analisis kebutuhan diklat dilakukan oleh Laird,
yaitu dengan micro
needs dan macro
needs. Pengelompokan ini didasarkan atas dampak dari kegiatan yang
dilakukan oleh Unit Training&Development pada
suatu organisasi. Micro
needs ditujukan hanya untuk mengetahui kebutuhan seseorang
atau kelompok kecil pegawai, sebaliknya macro
needs ditujukan untuk seluruh pegawai atau sekelompok pegawai
yang melaksanakan tugas dengan spesifikasi pekerjaan yang sama.
Selanjutnya,
Kaufman mengidentifikasi adanya tiga model umum analisis kebutuhan
diklat, yaitu: model induktif, deduktif, dan klasik. Model induktif
adalah suatu model yang didahului dengan kegiatan mengukur perilaku calon
peserta, kemudian mengelompokkannya dalam kawasan program dari sudut tujuan
umum yang diharapkan oleh masyarakat. Harapan tersebut kemudian dibandingkan
dengan tujuan besar yang telah ditetapkan dan akhirnya disusun tujuan yang
lebih terperinci. Model deduktif (tipe D) adalah suatu model yang
berturut-turut dimulai dari rumusan tujuan umum dan pernyataan hasil yang
ada dituangkan ke dalam tingkah laku yang diharapkan, penetapan kriteria untuk
mengukur perilaku, mengadakan kesepakatan dengan partner pendidikan
lainnya (calon peserta, fasilitator, pengguna lulusan dan masyarakat),
melakukan pengumpulan data tentang kesenjangan kemampuan, merumuskan tujuan,
mengembangkan program, melaksanakan dan mengevaluasi. Sementara itu model
klasik (tipe C) adalah suatu model yang berkaitan dengan orientasi pencapaian
sasaran pada pendidik daripada orientasi pencapaian sasaran si belajar.
Secara
lebih lengkap, untuk menggambarkan hubungan antara komponen-komponen yang
mendukung pelaksanaan analisis kebutuhan diklat, yaitu: teknik, alat dan tujuan
analisis kebutuhan diklat. Selanjutnya dapat dilihat dalam gambar
berikut:
Disari dari sumber: https://bkd.jogjaprov.go.id
Dari
gambar di atas dapat diketahui bahwa teknik, alat dan tujuan pelaksanaan
analisis kebutuhan diklat demikian luas. Teknik yang dapat digunakan
bersifat saling melengkapi antara satu dengan lainnya. Teknik pertama adalah
perluasan pengumpulan data yang berkaitan dengan kinerja pegawai yang menjadi
target pelaksanaan analisis kebutuhan diklat. Contoh data dapat berupa grafik
penjualan atau pendapatan, angka kecelakaan dan lain-lain.
Teknik
selanjutnya adalah needs
assessment yang diartikan sebagai cara untuk mendapatkan opini
tentang tujuan (optimals,
actuals, feelings, causes dan solusions) dari berbagai pihak.
Teknik needs
assessment mensyaratkan melakukan kontak dengan sumber
informasi untuk mendapatkan perspektif dan informasi baru yang terkait dengan
kinerja yang telah dicapai oleh setiap orang atau organisasi. Teknik terakhir
adalah melakukan subject
matter analysis, yaitu melakukan pengkajian terhadap bangun
pengatahuan, keterampilan atau sikap yang akan dibelajarkan, sehingga calon
peserta diklat dapat meningkatkan kinerjanya.
Teknik
lainnya adalah analisis kebutuhan diklat dengan menggunakan Quality Function Deployment (QFD).
Teknik ini menggunakan statistik, model setahap demi setahap untuk menemukan
apa yang harus dilakukan pada semua level pekerjaan untuk menemukan permintaan
pelanggan. Hasil dari proses ini digunakan untuk menemukan kebutuhan pekerja
atau peserta belajar yang berupa konten pembelajaran, perilaku yang diharapkan,
metode, proses, dan lain sebagainya dalam memuaskan pelanggan melalui peningkatan
kualitas pekerjaan.
Seluruh
teknik analisis yang dikemukakan di atas, perlu didukung oleh alat yang tepat.
Dengan memperhatikan demikian luasnya teknik analisis yang dapat dilakukan,
maka alat analisispun menjadi bervariasi, yaitu dapat menggunakan wawancara,
observasi, analisis kelompok dan survey. Berdasarkan pilihan alat tersebut,
survey dengan menggunakan kuesioner menjadi pilihan yang banyak dilakukan oleh
pengembang program diklat.
Berdasarkan
uraian tentang analisis kebutuhan diklat di atas, dapat diketahui bahwa lembaga
penyelenggara diklat pada semua tingkatan baik swasta maupun pemerintah perlu melakukan analisis
kebutuhan diklat sebagai proses dalam menentukan kebutuhan belajar secara
spesifik. Dengan demikian diharapkan ada kesesuaian antara kebutuhan individu
dengan organisasi.
Sumber
:
Sebagaian
Besar Artikel ini di ambil dari Website. http://bkd.jogjaprov.go.id/ Tentang.
Konsepsi
Analisis Kebutuhan Diklat (AKD).
Gagne
and Briggs, op.
cit.
William
J. Rothwell, H. C. Kazanas, Mastering
the Instructional Design Process, A Systematic Approach (San
Fransisco: Jossey-Bass Publishers, 1992
Penelope
Hawe, Deirdre Degeling, Jane Hall, Alison Brierley, Evaluating Health Promotion, A
Health Worker’s Guide (Sydney: MacLennan & Petty Pty
Limited, 1995
Jerold
E. Kemp, Gary R. Morrison, Steven M. Ross, Designing Effective Instruction (New
York: Macmillan College Publishing Company, 1994)
Arief
S. Sadiman, Perencanaan
Sistem Pembelajaran, Prototipa Bahan Perkuliahan (Jakarta:
Fakultas Pasca Sarjana IKIP Jakarta, 1992/1993)
Allison
Rosset and Joseph W. Arwady, Training
Needs Assesment (New Jersey: Education Techology Publications,
Inc, 1987)
Assalamualaikum...
BalasHapusIzin bertanya pak,Hal apa saja yang harus dipertimbangkan dalam menganalisis kebutuhan diklat?
HapusAbsensi BK/5a
HapusMulyana (20171029)
Izin bertanya pak, bagaimana langkah proses pendidikan dan pelatihan SDM di sebuah organisasi?
HapusTerimakasih pak
Dari beberapa teknik yang dijelaskan di atas,manakah teknik yang sangat berpengaruh untuk kebutuhan diklat ?
HapusAssalamualaikum wr wb saya sopiyana nim 20171028 izin bertanya Apakah dalam kegiatan diklat harus ada kegiatan pak?,terimakasih 🙏
HapusRatna Cempaka Louk Fanggi 20171034
HapusPahriah (20171012)
HapusYogi satiawan 20171013
HapusMengapa setiap instansi organisasi atau perusahaan perlu melakukan kegiatan analisis kebutuhan diklat training
Absen kehadiran
HapusNurahillah 20171033
ALISA SEPTIANINGSIH (Nim 20171014)
Hapusizzin bertanya;
Mengapa survey dengan menggunakan kuesioner menjadi pilihan yang paling banyak dilakukan oleh pengembang program diklat?
Nurhikmah 20171003
HapusIzin bertanya apakah indikator keberhasilan pelaksanaan Diklat?
Muhamad Syahrizal Ramadhani 20171021
BalasHapusMengapa model indikatif penting dalam Kaufman mengidentifikasi
BalasHapusNeha kamila 20171019
HapusAbsen kehadiran atas nama Nurul Unsya Akmal (20171032)
BalasHapusAssalamu'alaikum izin bertanya pak, apakah ada model analisis kebutuhan diklat selain yang ada di PowerPoint dan apa contoh dari model klasik?
BalasHapusAbsen kehadiran Ayu wafa lestari (20171006)
HapusAssalamualaikum wr.wb.saya yuliana (20171025) izin bertanya
BalasHapusBagaimana proses pengolahan data hasil analisis kebutuhan diklat?
Terimakasih
Assalamualaikum mohon maaf pak izin bertanya atas nama Muhammad hidayatulloh (20171007) Bagaimana proses pembuatan analisis kebutuhan Diklat melalui analisis organisasi?
BalasHapusAbsen kehadiran
BalasHapusMuhammad hidayatulloh (20171007)
Absen kehadiran
BalasHapusAlan Kurnia Maulana (20171016)
Absen kehadiran
BalasHapusRizka Nanda Dwi Putri (20171005) BK 5A
Absensi kehadiran
BalasHapusMuhammad Syariful Aqlam
20171024
Absen Kehadiran
BalasHapusDesty Humairo' ZN (20171031)
izin bertanya pak, seberapa besar pengharuh analisis kebutuhan diklat dilakukan oleh Laird, yaitu dengan micro needs dan macro needs terhadap suatu organisasi?
BalasHapusabsen kehadiran
HapusDevi Ayu (20171035)
Absensi kehadiran
BalasHapusDominikus Walla (20171023
assalamualaikum pak izin bertanya jumailia 20171011 mengapa kita perlu mengidentifikasi kebutuhan diklat?
BalasHapusabsensi kehadiran jumailia (20171011)
BalasHapusAbsensi kehadiran jaukhairismail (20171022)
BalasHapus